Tag

, ,

KAMPUS melahirkan komunitas baru dengan titel “mahasiswa”. Pada awalnya mahasiswa dianggap representasi masyakat kecil (wong cilik) dalam struktur kenegaraan. Sebab, kala itu suara mahasiswa sangat lekat dengan kepentingan masyarakat umum yang terpinggirkan.

Gerakan mahasiswa sekarang sangat dipengaruhi oleh konsep gerakan mahasiswa pada era awal kemerdekaan. Dalam sejarah perkembangan pada awal kemerdekaan, gerakan mahasiswa sudah menunjukkan kedekatan dengan gerakan politik. Misalnya, GMNI dengan PNI, CGMI dengan PKI, dan HMI dengan Masyumi. Maka harus kita akui, kemunculan gerakan mahasiswa sangat berkait dengan kepentingan para pelaku politik dalam struktur kekuasaan negara.

Corak gerakan mahasiswa yang memiliki kedekatan dengan politik dan kekuasaan sangat berbeda dari corak gerakan pemuda atau mahasiswa era sebelum kemerdekaan. Gerakan mahasiswa sebelum kemerdekaan lebih mengutamakan unifikasi dan kolektivitas nasionalisme dan kebangsaan demi satu tujuan, yaitu kemerdekaan. Pergulatan pemikiran dan diskusi kritis bersifar progresif konstruktif mewarani corak gerakan tersebut.
Sisi Gelap Secara empiris, bila kita teropong dari bingkai sosial, gerakan mahasiswa masa kini berada pada sisi gelap (kesesatan atau kesalahan). Pertama, gerakan mahasiswa sebagai sarana perekrutan dan kaderisasi partai politik. Posisi itu mendorong gerakan mahasiswa mendekati salah satu partai politik dan menjadi alat oposisi bagi pemerintah (partai politik pemenang). Dalam hal ini, gerakan mahasiswa dijadikan sarana melakukan mobilitas vertikal dalam struktur kekuasaan politik.

Kedua, pergeseran posisi gerakan mahasiswa dari gerakan transformatif solutif (gerakan yang memberikan ide atau gagasan pemecahan masalah) menjadi gerakan destruktif. Itu dapat dilihat dengan berakhirnya demonstrasi mahasiswa yang berujung pada bentrok, ricuh, perusakan fasilitas umum, dan perusakan kepemilikan pribadi masyarakat.

Ketiga, orientasi gerakan yang hanya berujung pada orientasi profit sesaat berdasar like and dislike. Orientasi itu mendorong gerakan menjadi tidak murni dalam menyuarakan kepentingan masyarakat terpinggirkan.
Model gerakan mahasiswa seperti itu berujung pada eksploitasi kemanfaatan ekonomi secara pragmatis. Keadaan itu dapat mengakibatkan komersialisasi gerakan.
Tidak Otonom Mahasiswa merupakan bagian dari struktur sosial masyarakat. Struktur sosial masyarakat bersifat tidak otonom. Itu berarti keberadaan gerakan mahasiswa dipengaruhi oleh sistem ekonomi, politik, hukum, dan budaya dalam masyarakat. Jadi bukan berarti gerakan mahasiswa harus mengikuti arus masyarakat yang dikendalikan struktur kekuasaan. Namun gerakan mahasiswa harus memosisikan diri mengikuti arus suara keadilan masyarakat yang bersifat mutlak, tidak bisa ditawar.

Karena itu ke depan gerakan mahasiswa harus kembali ke fungsi awal kelahiran gerakan mahasiswa sebagai gerakan intelektual progresif. Pertama, sebagai kontrol sosial atas kebijakan pemerintah yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Gerakan mahasiswa menjadi kontrol terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang pemerintah.

Kedua, gerakan mahasiswa sebagai rekayasa sosial. Gerakan mahasiswa sebagai kelompok penekan yang memberikan pengaruh penting terhadap perumusan kebijakan penguasa hingga melahirkan kebijakan prorakyat.

Ketiga, sebagai gerakan emansipasi masyarakat, yakni dengan pelibatan masyarakat dalam pengambilan isu sentral dalam gerakan. Saatnya mengembalikan roh suara gerakan mahasiswa mahasiswa didasari atas suara rakyat, bukan suara kepentingan sesaat atas materi dan kekuasaan. Semoga ke depan kita melihat kembali progresivitas gerakan mahasiswa. Wallahu’alam. (51)

– Budi Setyawan, mantan Presiden BEM KM Undip, mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Hukum Undip

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Suara Merdeka, Sabtu 24 Oktober 2010