Tag

, ,

Hampir 10 (sepuluh) tahun sudah reformasi bergulir. Dalam agenda reformasi terdapat item “Adili Soeharto”, tetapi hingga wafat Soeharto belum juga dapat terlaksana. Maka pupus sudah harapan membawa mantan Presiden RI ini ke meja hijau. Dengan tidak berhasilnya membawa Soeharto ke pengadilan, maka cacatlah cita-cita reformasi 1998. Masyarakat saat ini telah unbelieve (tidak percaya) lagi dengan kewibawaan hukum. Hal ini tentunya didasarkan pada proses penegakan hukum yang selama ini masih berjalan sempoyongan (tidak teratur). Kasus Soeharto menjadi salah satu titik sentral

pula dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat pada penegakan supremasi hukum di negeri ini. Pasalnya penguasa orde baru ini merupakan orang yang mempunyai immunitas (kekebalan) terhadap law enforsement di Indonesia.

Harus diakui, Soeharto pernah membawa Indonesia menjadi negara yang berhasil dalam melakukan swasembada pangan tepatnya sejak tahun 1984. Hal ini merupakan sebuah prestasi yang belum pernah dicatat oleh Presiden sebelum dan sesudahnya.

Namun, hal tersebut tampak kontradiiktif dengan cara Soeharto dalam menjaga kedaulatan negara. Soeharto mengartikan kedaulatan dengan masyarakat tidak melakukan proses berpikir kritis terhadap kebijakan pemerintah. Politik keamanan Soeharto malah menjadikan bentuk konflik baru di dalam masyarakat.

Banyak catatan hitam Seoharto dalam berbagai bentuk pelanggaran HAM atas nama pertahanan dan keamanan selama ia berkuasa. Kasus DOM di Aceh, Tanjung Priok, Talangsari, pembangunan waduk Kedungombo hingga perlakukan buruk terhadap mantan presiden Soekarno dan hilangnya aktivis-aktivis demokrasi menjelang 1998 telah mencederai wibawa dan menutupi berbagai prestasinya.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka lebih bijak apabila pemerintah mempertimbangkan kembali usulan atau wacana  untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Esensi pahlawan bukanlah pada penyebutan atau pemberian gelar saja. Tetapi pada jasa-jasa yang telah dia beerikan kepada bangsa, negara dan umat manusia.

Tulisan diatas pernah dimuat di Harian Suara Merdeka tahun 2007.